Perdebatan mengenai keabsahan pencalonan Gibran, mengemuka dalam ruang sidang Mahkamah Konstitusi (MK). Bahkan salah satu petitum pemohon dalam sengketa Pemilihan Presiden (Pilpres) ini meminta agar pasangan Prabowo-Gibran didiskualifikasi dari Pilpres 2024 ini. Dalam petitum perkara nomor 2/PHPU.PRES-XXII/2024[1] tersebut, pasangan Ganjar-Mahfud meminta pasangan Prabowo-Gibran didiskualifikasikan selaku pasangan calon peserta pemilihan umum … [Baca Selengkapnya...] about Babak Akhir Sengketa Pilpres
Herdiansyah Hamzah
The Young Karl Marx : Memahami Pemikiran Marx Muda
Film The Young Karl Marx. Sumber gambar : chapter.org.
Judul asli film ini, “Der Junge Karl Marx” dalam bahasa Jerman atau “Le Jeune Karl Marx” dalam bahasa Perancis. Sebenarnya film ini sudah beredar hampir setahun sejak pertama kali diputar luas dibulan Februari-Maret 2017 silam. Hanya saja, saya baru sempat menyaksikannya. Salah satu alasan utamanya, karena film ini belum disertai subtitle Indonesia ataupun Inggris.
Maklum, hampir keseluruhan percakapan dalam film ini menggunakan
bahasa Jerman dan Perancis. Di Indonesia sendiri, film ini tidak
sepopuler film-film lainnya. Bisa jadi phobia komunisme menjadi penyebabnya. Padahal sesungguhnya ilmu dan pengetahuan bisa datang darimana saja tanpa batasan.
Film ini menggambarkan titik balik pergulatan pemikiran Marx. Beragam
alur coba dihadirkan dalam film ini. Mulai dari cerita pilu kehidupan
keluarganya bersama Jenny von Westphalen yang kesulitan secara ekonomi,
kisah persahabatannya dengan Friedrich Engels, hingga dinamika
perjuangannya yang tidak hanya berhadapan dengan kaum borjuasi, tetapi
juga bertarung ide dan gagasan dengan sesama aktivis politik di
zamannya.
Mulai dari Arnold Ruge, Joseph Proudhon, Mikhail Bakunin, Wilhelm
Weitling, hingga Friedrich Engels sendiri. Klimaksnya adalah lahirnya
manifesto komunis yang kelak menjadi kitab perjuangan bagi kaum proletar
diseluruh belahan dunia.
Film ini dibuka dengan kalimat-kalimat pengantar yang sepertinya
ingin menyampaikan pesan emosional kepada siapapun yang menyaksikannya.
“Untuk mengumpulkan kayu, seseorang haruslah merusak kayu yang hidup
dan mengumpulkan kayu yang mati. Tidak merubah apapun dari asalnya.
Hanya apa yang sudah dipisah, yang pindah dari asalnya. Meskipun ini
adalah perbedaan esensial, kalian anggap ini adalah pencurian, dan
menghukum mereka selayaknya. Montesquieu berkata ada dua jenis
pengrusakan. Ketika seseorang tidak memperhatikan hukum. Dan satu lagi,
ketika hukum yang merusak mereka. Kamu telah menghapuskan perbedaan
antara mencuri dan mengumpulkan. Tetapi kamu salah jika menganggap itu
semua untuk keuntunganmu. Orang-orang melihat hukumannya tapi tidak
kejahatannya. Dan ketika mereka tidak melihat kejahatannya, ketika
mereka dihukum, kau harus menakuti mereka. Karena mereka akan membalas
dendam”.
Situasi inilah yang coba digambarkan Marx melalui artikel-artikelnya.
Situasi ketidakadilan itu harus dilawan, apapun resiko yang akan
dihadapi. Dan menulis adalah bagian terpenting dalam
strategi perjuangannya. Dengan menulis, keresahan disebarluaskan, ide
ditawarkan, dan gagasan ditanamkan. Melalui tulisan pula perang mulai
dilancarkan, perlawanan dikobarkan, dan pemberontakan dikumandangkan.
Atas dasar ini pula Marx memilih bergabung dengan koran Rheinische Zeitung, untuk menyebar ide dan gagasannya. Meski pada akhirnya koran Rheinische Zeitung dibredel dan ditutup karena dianggap terlalu kritis, namun pemikiran-pemikiran Marx tetap hidup dan berkembang.
Dalam salah satu adegan pembredelan koran Rheinische Zeitung ini, kalimat berikut meneguhkan betapa pembungkaman itu tidak akan pernah membunuh ide untuk tetap tumbuh. “Mengapa
kita bergetar? Mereka bisa membunuh Rheinische Zeitung, mereka dapat
membungkam kita, tapi mereka tak dapat membunuh pikiran!”.
Kisah menarik lainnya soal Jenny, istri Marx yang setia
mendampinginya dalam situasi apapun. Marx menggambarkan Jenny sebagai
aristokrat tercantik di Kota Trier, Jerman. Jenny merupakan keturunan
Westphalen, salah satu keluarga tertua dan terpandang di Jerman. Jenny
seperti dibuang oleh keluarganya karena memilih jalan hidup bersama
Marx. Situasi keuangan yang membelit, rupanya menjadi penyebabnya.
Anak yang sakit-sakitan yang digambarkan dalam film, kian
mengkonfirmasi betapa pahit kehidupan mereka. Namun Jenny tidak menyesal
memilih hidup bersama Marx. Dalam satu percakapan bersama Engels, Jenny
begitu teguh dan yakin dengan pilihannya. “Kau adalah wanita yang luar
biasa. Kau mengagumkan. Kau dapat hidup santai dan kaya dengan
aristokrat lain, bermandikan harta dan kemewahan”, ujar Engels.
Jenny memberi jawaban yang menohok, “Kebahagiaan membutuhkan
pemberontakan. Pemberontakan melawan dunia lama, apa yang sudah ada. Itu
yang aku percayai. Dan aku berharap dunia lama akan pecah secepatnya”.
Bagian terpenting dari film ini, tetap saja soal persahabatan Marx
dan Engels bermula, yang pada akhirnya melahirkan manifesto komunis yang
mengguncang dunia. “Kau tahu. Aku rasa aku memahami sesuatu. Berkat
dirimu. Kau membuatku sadar akan satu hal. Dengar. Sampai sekarang para
filsuf. Ah, filsuf. Hingga sekarang para filsuf hanya menafsirkan.
Menafsirkan dunia. Tetapi dunia harus dirubah”, ujar Marx kepada Engels
dalam sebuah adegan.
Dinamika perjuangan Marx dan kawan-kawannya begitu tajam. Bahkan tak
jarang berakhir pertengkaran dan perpecahan. Terutama sekali ketika Marx
tak henti-hentinya menyatakan bahwa gerakan proletar harus disertai
dengan teori. Dan teori inilah yang akan mengubah dunia, mendasari
gerakan, dan menghantarkan cita-cita perjuangannya. Sebab tanpa teori,
yang ada hanya keinginan semu. Berjuang itu bukan semata-mata dilandasi
tujuan, niat dan keinginan akan kebahagiaan rakyat. Bukan pula soal
mencari harmoni universal.
Dalam satu pertemuan, Marx berkali-kali menegaskan itu. “Apa dasar
teoritis yang membenarkan kegiatanmu, sekarang dan dimasa depan? Anda
mengumpulkan pekerja tanpa doktrin konstruktif, adalah kebohongan
belaka. Itu seperti nabi di satu sisi, dan orang-orang tolol disisi
lainnya. Kebodohan tidak akan menolong siapa pun”, kritik keras Marx
kepada Weitling.
“Kritik akan melahap semuanya. Dan ketika tidak ada yang tersisa, dia
akan melahap dirinya sendiri”, ujar Weitling. Ini tentu saja ungkapan
yang ada benarnya jika dipandang pada satu sisi. Tetapi sisi lainnya
mengesankan sikap ketidaksiapan terhadap kritik. Namun yang terbaik
tentu saja kritik yang disertai dengan argumentasi ilmiah, dan disertai
dengan jalan keluar.
Kritik ini dikuatkan oleh Engels ketika menyampaikan pidato dihadapan kongres league of the just.
“Apa yang mempertemukan kita? Bukan sekedar slogan kebaikan. Karena
air mata tidak memberikan kekuatan. Dan kekuatan tidak meneteskan air
mata. Para borjuis tidak akan memperlihatkan kebaikan dan kau tidak akan
menguasainya dengan kebaikan. Kita dipertemukan untuk berjuang. Apa
yang kita perjuangkan? Bukan hanya soal kebebasan, kesamaan ataupun
prinsip semua orang bersaudara. Apakah semua orang bersaudara? Tidak.
Apakah para borjuis dan pekerja bersaudara? Tidak. Mereka adalah musuh.
Kita dipertemukan disini bukan untuk ide-ide abstrak ataupun mimpi-mimpi
sentimentil”.
Lebih lanjut Engels menyebutkan bahwa, “Tujuan perjuangan kita sebagaimana disimpulkan oleh Marx dalam bukunya Poverty of Philosophy. Antagonisme antara proletar dan borjuis akan berjung pada revolusi total. Dan selama kelas itu ada, maka pilihannya berjuang atau mati. Revolusi industri menciptakan budak modern. Budak ini adalah kaum proletar. Dengan membebaskannya, maka kita memiliki kebebesan sejati. Dan kebebasan itu memiliki nama : “komunisme”. Pekerja diseluruh negeri bersatulah”.
Pada akhirnya league of the just bertransformasi menjadi communist league, di mana Marx dan Engels menjadi pelopor utamanya. Tetapi tentu saja tanpa menihilkan peran kawan-kawan mereka lainnya.